BANTENLIVE.COM- Festival musik tahunan SkyAvenue 2026 yang digelar oleh siswa SMA Labschool Kebayoran berlangsung meriah di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Ribuan penonton memadati arena konser untuk menikmati penampilan deretan musisi papan atas Indonesia dalam sebuah perhelatan yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa pesan kuat mengenai kepedulian terhadap lingkungan.

Sejumlah penyanyi dan grup musik seperti RAN, Raisa, Kahitna, Dia X Naykilla, Dewa 19 feat Arlissa, hingga Marcello Tahitoe (Ello) sukses menghidupkan suasana.

Penonton larut bernyanyi bersama sepanjang pertunjukan, menjadikan festival ini sebagai salah satu acara pelajar terbesar yang menyita perhatian publik.

IMG 1387

Di balik kemeriahan tersebut, SkyAvenue 2026 mencatat sederet pencapaian membanggakan. Sebanyak 7.000 tiket terjual habis sebelum acara berlangsung, sekaligus mengantarkan festival ini meraih Rekor MURI melalui instalasi seni utama berbahan dasar kain bekas.

Kesuksesan penyelenggaraan SkyAvenue 2026 dipimpin oleh Nadhif Safei Daulay selaku Ketua Panitia sekaligus Penanggung Jawab acara.

Ia mengungkapkan bahwa seluruh proses persiapan dilakukan selama kurang lebih 10 bulan dengan melibatkan lebih dari 500 siswa SMA Labschool Kebayoran.

Menariknya, seluruh rangkaian perencanaan hingga pelaksanaan festival dikerjakan secara mandiri oleh para siswa tanpa menggunakan jasa event organizer (EO). Hal tersebut menjadi salah satu nilai utama yang ingin ditunjukkan dalam penyelenggaraan SkyAvenue tahun ini.

Mengusung tema “Ascension of the Eterniverse”, SkyAvenue 2026 menghadirkan empat konsep dunia atau realm, yakni hutan, laut, kota, dan es.

Setiap area dirancang untuk menggambarkan berbagai persoalan lingkungan yang tengah dihadapi dunia akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

“Tema yang diangkat Ascension of the Eterniverse yang menggabungkan realm hutan, laut, kota, dan es. Di setiap realm tersebut kami ingin meng-highlight isu lingkungan yang terjadi di dunia nyata sebagai bentuk komitmen kami terhadap permasalahan pemanasan global,” ujar Nadhif.

Pesan tersebut diwujudkan melalui berbagai dekorasi kreatif hasil karya para siswa. Selain mempercantik area festival, setiap instalasi juga menjadi media edukasi bagi para pengunjung agar semakin peduli terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam upaya memperkuat kampanye keberlanjutan, panitia turut menggandeng Setali Indonesia untuk mengumpulkan donasi kain bekas yang kemudian diolah menjadi karya seni monumental.

“Kolaborasi tersebut dilakukan guna meningkatkan awareness masyarakat yang datang ke SkyAvenue 2026 terhadap isu lingkungan, sekaligus menjadi pengingat bahwa kita bisa melakukan sesuatu, salah satunya dengan mendaur ulang kain bekas menjadi monumen dekorasi yang indah,” jelas Nadhif.

Komitmen terhadap konsep sustainability itu akhirnya membuahkan hasil membanggakan. SkyAvenue 2026 resmi mencatatkan Rekor MURI melalui instalasi replika pohon terbesar yang dibuat dari kain bekas.

Karya tersebut menjadi simbol bahwa limbah tekstil masih memiliki nilai guna apabila diolah secara kreatif. Selain itu, instalasi tersebut menunjukkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian lingkungan melalui pendekatan seni.

Menurut Nadhif, terdapat tiga nilai utama yang menjadi fondasi penyelenggaraan SkyAvenue 2026.

Nilai pertama adalah keberlanjutan, yang diwujudkan melalui pengangkatan isu lingkungan dalam konsep festival. Kedua adalah kemandirian, karena seluruh penyelenggaraan dilakukan oleh siswa tanpa bantuan event organizer.

Sementara nilai ketiga adalah kesuksesan, yang tercermin dari tingginya antusiasme masyarakat serta keberhasilan menjual habis 7.000 tiket yang tersedia.

Dengan perpaduan hiburan, kreativitas, dan kampanye lingkungan, SkyAvenue 2026 membuktikan bahwa festival yang digagas pelajar mampu menghadirkan dampak positif sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dan peduli terhadap masa depan bumi.

Nadia Lisa Rahman
Editor