BANTENLIVE.COM– Dunia kedokteran kembali menghadirkan pembaruan penting dalam penanganan kesehatan reproduksi perempuan, yakni istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) yang selama ini dikenal luas resmi berganti menjadi PMOS (Penyakit Metabolik Ovarium Sindrom) atau secara internasional disebut Metabolic Reproductive Syndrome (MRS).

Perubahan nomenklatur ini merupakan hasil kesepakatan para pakar kesehatan dunia dengan tujuan memberikan pemahaman yang lebih tepat mengenai penyakit tersebut.

Pergantian nama diharapkan mampu meningkatkan akurasi diagnosis sekaligus mempercepat penanganan pasien yang selama ini kerap terlambat terdiagnosis.

Menurut dr. Agus Heriyanto, Sp.OG, Subsp. FER, MARS, MM, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi di Eka Hospital BSD, perubahan ini bukan sekadar pergantian istilah, melainkan bagian dari perkembangan ilmu kedokteran yang lebih menitikberatkan pada akar permasalahan penyakit.

Mengapa Nama PCOS Diubah Menjadi PMOS?

Selama bertahun-tahun, istilah PCOS sering menimbulkan kesalahpahaman karena masyarakat maupun tenaga kesehatan cenderung mengaitkannya dengan keberadaan banyak kista di ovarium.

Padahal, kondisi tersebut sebenarnya merupakan gangguan hormonal dan metabolik yang memengaruhi fungsi reproduksi. Tidak semua penderita memiliki gambaran kista pada pemeriksaan USG.

Akibatnya, banyak perempuan yang mengalami gejala khas tetapi tidak memperoleh diagnosis karena hasil USG terlihat normal. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab tingginya angka keterlambatan diagnosis.

Dengan menggunakan istilah PMOS, fokus pemeriksaan tidak lagi hanya tertuju pada kondisi ovarium, tetapi juga pada gangguan metabolisme yang menjadi penyebab utama penyakit.

Diagnosis Kini Lebih Menitikberatkan Gangguan Metabolik

Sebelumnya, diagnosis PCOS mengacu pada Kriteria Rotterdam, yaitu apabila pasien memenuhi minimal dua dari tiga indikator berikut:

  • Siklus menstruasi tidak teratur atau jarang mengalami haid.
  • Kadar hormon androgen yang tinggi, ditandai dengan pertumbuhan rambut berlebih, jerawat berat, atau hasil pemeriksaan laboratorium.
  • Adanya gambaran ovarium polikistik melalui pemeriksaan USG.

Dalam pendekatan terbaru PMOS, dokter kini lebih memperhatikan kondisi metabolik pasien, seperti:

  • Resistensi insulin.
  • Penumpukan lemak di area perut.
  • Gangguan kadar kolesterol.
  • Masalah ovulasi kronis.
  • Gangguan siklus menstruasi yang berlangsung lama.

Artinya, seorang perempuan tetap dapat didiagnosis mengalami PMOS meskipun hasil USG tidak menunjukkan adanya kista pada ovarium.

Penanganan Lebih Cepat, Risiko Komplikasi Bisa Dikurangi

Perubahan sistem diagnosis diharapkan mampu mempercepat proses identifikasi pasien sehingga terapi dapat diberikan lebih dini.

Penanganan yang lebih cepat berpotensi menurunkan risiko berbagai komplikasi jangka panjang, antara lain:

Infertilitas atau kesulitan memperoleh kehamilan.

  • Diabetes melitus tipe 2.
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah.
  • Gangguan kecemasan.
  • Depresi.

Dengan pendekatan yang lebih komprehensif, pasien juga memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan terapi yang sesuai dengan kondisi metabolik maupun hormonal yang dialami.

Perempuan yang mengalami menstruasi tidak teratur, berat badan sulit dikendalikan, muncul jerawat berlebihan, pertumbuhan rambut di area yang tidak biasa, atau sedang menjalani program kehamilan namun belum berhasil, sebaiknya segera menjalani pemeriksaan menyeluruh.

Evaluasi hormon, metabolisme, serta fungsi reproduksi dapat membantu dokter menentukan penyebab keluhan secara lebih akurat sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Konsultasikan dengan Dokter Fertilitas

Perkembangan ilmu kedokteran terus menghadirkan metode diagnosis yang lebih tepat demi meningkatkan kualitas hidup pasien.

Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada PMOS atau memiliki masalah kesuburan, konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang memiliki kompetensi di bidang fertilitas dan endokrinologi reproduksi.

Salah satu dokter yang dapat menjadi rujukan adalah dr. Agus Heriyanto, Sp.OG, Subsp. FER, MARS, MM, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi di Eka Hospital BSD.

Nadia Lisa Rahman
Editor